Powered By Blogger

Sabtu, 16 Oktober 2010

Assin didgeridoo

Didgeridoo (atau didjeridu) adalah alat musik tiup penduduk asli Australia dari bagian utara Australia.
Sebuah didjeridu biasanya berbentuk silinder atau cenderung kerucut, serta berukuran panjang sekitar 1 sampai 2 meter, kebanyakan berukuran 1,2 meter. Jarang sekali berkuran yang lebih pendek atau lebih panjang dari ini . Pada umumnya, semakin panjang alat musik ini, kunci nadanya semakin rendah. Para pemain tradisional Aborigin lebih menyukai kunci nada antara D ke F♯

Didgeridoo terbuat dari batang / dahan pohon uecalyptus yang bagian tengahnya bolong dimakan rayap. Orang aborigin sendiri menyebut instrumen ini dengan nama "Yidaki", sedangkan nama didgeridoo adalah sebutan dari orang2 kulit putih berdasarkan suara yang dihasilkan yidaki.

Cara memainkannya adalah dengan teknik meniup yang disebut "Drone/Droning",  Yang paling menantang adalah teknik pernafasan yang dipake para yidaki players. Karena sound yang dihasilkan Yidaki harus terus menerus tanpa jeda untuk menarik napas, maka teknik pernapasan yang dipakai adalah teknik "circular breathing".(Salisiah angok cek urang minang red.) Teknik ini sebenarnya bukan teknik yang asing untuk orang indo karena orang Minang memakai teknik ini untuk memainkan Saluang atau orang Bali meniup serulingnya dengan teknik ini juga. Secara sederhana teknik meniup ini adalah sebuah teknik yang dipakai agar aliran udara yang dihasilkan tidak terputus-putus karena kita harus menarik nafas. Sound-sound yidaki biasanya meniru suara-suara binatang yang ada di lingkungan kultural aborigin seperti anjing, kangguru atau burung kookaburra (sejenis king fisher).